Allahu Ghayatunaa...
Kamis, 15 Mei 2008
Hari kedua shooting lanjutan film Sang Murabbi, alhamdulillah selesai juga di sore yang basah, di sungai curug naga, menjelang maghrib tiba. Lokasi yang cukup curam dan terjal membuat nafas ini terasa berat... Satu per satu hembusan nafas terdengar jelas di telinga. Padahal dulu katanya, hobby tracking dan naik gunung... Duh faktor U(mur) kali ya, nggak bisa dibohongi... hehe...
Adegan pada shooting kali ini memang cukup istimewa. Menggambarkan bagaimana gigihnya Ust. Rahmat Abdullah mendatangi tempat-tempat daurah, memenuhi undangan para kader tarbiyah. Berjalan kaki, melewati lereng curam, menapaki batu-batu kali... Memberikan tausyah di tengah gemericik air yang mengaliri jiwa-jiwa yang dahaga, yang senantiasa rindu dan cinta kepada Allah serta Rasulullah pembawa risalahNya.
Dalam 'berjuang', banyak kendala, hambatan yang dihadapi... itu tidak bisa dipungkiri. Terkadang tubuh ini terasa begitu lelah... Hati dan fikiran terasa begitu letih. Jika masalah datang karena memang tidak bisa dihindari, seperti faktor alam, cuaca dan yang lainnya... Insya Allah, mudah untuk menerimanya. Tapi jika masalah datang karena faktor manusia... Kemalasan, kebodohan, kepicikan, kesombongan... Astaghfirullah... Betapa berat untuk bisa menerima dengan kesabaran dan keikhlasan.
Ya, Syaikh... Menapaki kembali jejak langkah dakwahmu, diri ini terasa begitu kecil, tak berarti...
engkaulah,
yang tak pernah berkata letih
yang tak mengenal kata putus asa
yang senantiasa bersungguh-sungguh
yang selalu peduli
peka
jujur
dan ikhlas
menggelorakan kembali semangat dakwah
Seperti yang engkau katakan dalam adegan daurah di sungai ini, di atas batu yang dibawahnya mengalir air yang jernih ;
"Allah telah berfirman; Sesungguhnya, Aku ciptakan langit dan bumi ini, wahai manusia, buat kamu untuk berfikir, untuk menelaah bagaimana kamu menjalani hidup ini."
"Ya ayuhal ikhwah, Antum perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan batu dan air yang mengalir di sungai ini. Antara batu dan air tidak ada pertikaian diantara mereka. Batu tidak pernah mengatakan, "Hai air kenapa bunyimu terlalu keras" Atau air mempersoalkan, "Batu, kenapa kau ada disini." Tidak ada persengketaan diantara mereka; Mana hak saya... Mana kewajiban kamu... Tapi kenapa kita tidak mau mengambil 'ibroh dari batu dan air? Kenapa kita mulai bercerai berai, memikrkan ini hakku... ini hak saya... Ini kewajibanku... Itu kewajibanmu... Malu kita semua pada batu dan air... Ini saatnya antum semua bersatu, bekerjasama dalam ukhuwah Islamiyah... Allahu Akbar!"
Ya, Allah tuntunlah kami pada kelapangan hati, kesabaran dan keikhlasan seperti yang telah Engkau berikan kepada para pendahulu kami, orang-orang shalih, para mujahid, para pejuang dakwah yang tak pernah mengenal kata letih atau lelah....